Kenapa pilih Belanda? 02/02/2009
Posted by baiu in studi.Tags: bahasa, kuliah
trackback
Sampai saat ini, kalau aku chatting dan kontak teman2 lama di Indonesia, juga saat pertama bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini, pertanyaan yang sama pasti kudengar: Kok jauh banget di Belanda? Nggak kangen Indonesia? Nah, sekarang saatnya diriku menjawab n mengklarifikasi cuma sayangnya mau gelar konferensi pers ga ada modal ;)
Jadi begini:
Sebenernya sudah dari SMP penginnya lanjut sekolah di luar Indonesia, cari yang beasiswa. Kalau dulu, ada beasiswa ASEAN yang di Singapura untuk lanjut ke secondary school. Tapi gara-gara lupa kirim fotokopi rapor, ya sudah gugurlah mimpi itu :((
Lalu SMA pindah ke Jogja di Kolese De Britto, yang dikenal siswanya berambut gondrong dan berbaju bebasnya itu juga ikatan alumninya yang luas. Di SMA malah penginnya ke Jerman untuk belajar musik berhubung sudah kursus piano dari SD dan terlanjur jatuh hati dengan musik2 klasik dan instrumental. Saking penginnya, sampai aku bela2in ikut beberapa masterclass dan ngumpulin semua piagam/sertifikat festival, juga ikut les bahasa Jerman (waktu kelas 3) meski sebelumnya sempat belajar otodidak sih.
Nah, di pertengahan tahun di kelas 3 itu, ada presentasi dari beberapa lembaga (agen) yang membantu calon mahasiswa yang mau kuliah di luar negeri. Ada yang ke Jerman, Malaysia (bukan jadi TKI ya, hehe), Australia, Belanda, juga Singapura. Sempat juga milih dua jurusan: Seni Musik dan Teknik Elektro. Saking niatnya ambil musik, sampai bikin rekaman untuk audisi. Tapi sayangnya gagal juga karena mungkin fasilitas rekaman ga terlalu bagus. Ya sudah, aplikasi untuk teknik elektro malah diterima. Oke ga apa2 karena aku juga suka hal2 berbau teknologi sih.
Soal beasiswa, dulu memang ada program beasiswa untuk mahasiswa sarjana (bachelor), yang namanya DELTA (Dutch Education: Learning at Top-Level Abroad). Bentuk beasiswanya berupa pengurangan uang kuliah (tuition fee) di pertengahan tahun, sebesar EUR1500. Sempat sih, beberapa kali diskusi dengan ortu tentang kuliah di Belanda atau di Jerman. Tapi ortu setuju aja asalkan kuliah serius dan jangan sampai nyesel.
Bukan itu aja sih motivasiku kuliah di sini. Tadinya berpikir, kalau di Singapura atau Australia memang dekat dengan Indo, tapi faktor bahasa juga yang jadi pertimbanganku. Aku seneng banget belajar bahasa asing. Jadi kalau kuliah di Belanda, selain bahasa pengantar bahasa Inggris, juga bisa belajar Nederlands sehari-harinya atau juga malah Deutsch (bahasa Jerman). Berhubung, Enschede dekat perbatasan dengan Jerman, banyak orang2 Jerman yang datang tiap hari Sabtu ke Openmarkt (pasar terbuka). Mungkin kalau mereka yang tinggal di Belanda bagian selatan malah terbiasa dengan bahasa Perancis juga karena orang Belgia juga berbahasa itu.
Komentar»
No comments yet — be the first.